Cerpen : Aku Mencintainya Dalam Diam

Sebuah kisah cinta yang tak terungkap

Aku Mencintainya Dalam Diam- Pagi itu aku sangat bersemangat, aku mau berangkat kuliah dan bertemu denganya,,, ah,, aku akan berangkat kuliah dan akan melihatnya, begitu kali ya lebih tepatnya.

Sudah lama aku menyukainya, bahkan dari semester awal masuk kuliah, bukan pandangan pertama. Diawali dari rasa kagum dengannya. Berlarut hingga menjadi suka. Bahkan mengalir hingga bermuara pada rasa menyayanginya.

Dari awal aku dan dia satu kelas bahkan hingga sekarang, dari semester 1 dan sekarang semester 6. Dan rasa yang aku miliki tidak pernah berubah. Aku dapat menggabarkan sosok yang aku sukai seperti dia, dia seseorang yang pandai bergaul sehingga mempunyai banyak teman, memiliki kepribadian yang membuatku dapat menyukainya, humoris dengan tingkah dan aku selalu tersenyum dibalik penutup wajahku saat dia bercerita, cerdas dengan wawasan yang luas, bertanggung jawab dengan pendidikan dan latihan yang rutin dia jalani, dan yang paling membuatku menyukainya, dia memiliki akhlak yang baik, agama yang baik, dan sangat terlihat menyayangi keluarganya terutama kedua orangtuanya.

Pagi itu aku berdiri di depan mading kampus, di dekat kelas. Itu aku lakukan bukan karena aku ingin mengetahui infonya, tapi hanya kamuflase agar tidak ada anak yang melihatku dengan tatapan aneh. Apa hanya aku yang merasa seperti ada ribuan mata yang mengarah dan menatap dengan tatapan miring dan tajam padaku, dari awal aku turun dari motorku, berjalan ke arah kelasku, dan bahkan di dalam kelas.

Tidak lama kemudian dia datang, datang menghampiriku. Ah.. bukan.. tapi memang kelasnya di sana. Lalu aku duduk di balkon depan yang panjang. Sambil kubuka buku yang kubawa dari rumah. Aku begitu malu ketika ada dirinya. Bukan tidak berani hanya aku menjaga batasan antara aku dan dia, lebih tepatnya lagi antara laki-laki dan wanita.

“Di sini kan ya kelasnya?” aku melihat kepada sosok yang bertanya, kutatap sebentar, benar-benar sebentar, lalu kutarik pandanganku ke arah bukuku lagi. Dia sosok yang membuatku tersipu malu. Mendengar suaranya saja membuatku tak bisa lupa, suara berat, dan diiringi dengan gaya khasnya.

Seketika aku menjawab singkat “Iya”, padahal banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan kepadanya. Unutung aja aku masih dapat mengendalikan pikiranku, sehingga tidak ada kata yang terucap lagi setelahnya.

“Bapaknya belum dateng ya?” tanyanya sambil berdiri di depanku dan duduk di sebelahku, dibatasi dengan pilar besar. Ya ampun dia di sebelahku, hanya memang ada pilar yang menyangga ruas langit-langit atas. Sehingga dia tertutup pilar itu.

“Kayaknya sih belum… kamu udah dapet info buat daftar PPL KKN?” aku mencoba memberanikan diri bertanya kepadanya setelah berperangnya hati kecilku yang penakut dan pemberani.

“Udah, daftar online dulu kan?” kudengar suaranya dibalik pilar itu, dari suaranya sedikit rendah, tetapi jelas.

“Iya, itu ada yang semester genap, khusus, sama ganjil, kalo yang semester khusus itu dibulan apa ya?” tanyaku balik. Wah.. hati kecil pemberaniku sedang menguasai, tak seperti biasanya, aku banyak bertanya kepadanya.

“Belum tau, soalnya belum dibagi dari sananya” jawabnya dengan suara jelas tetapi sedikit samar-samar, seperti menghadap kearahku hanya tertahan pilar. Sangat jelas, dan sangat dekat, aku rasa dia bena-benar tepat berada di samping pilar itu. Sedikit aku melirik kakinya dan yaa.. dia berada di sampingku.

Dia adalah laki-laki yang menatap mataku dengan sangat sebentar ketika kita sedang berbicara urusan kuliah, atau sekedar lewat di depanku, atau tanpa sengaja tatapan kita saling bertemu dan benar-benar sebentar aku dan dia langsung mengalihkan ke yang lainnya. Itu terjadi tidak hanya sekali atau dua kali, menurutku cukup sering, sehingga membuatku merasa dia melihatku dari tempat dia berada. Aku rasa dia memilih duduk di sana untuk menjaga dirinya atau diriku agar tidak terjadi fitnah, Bahkan pada hari aku dan dia duduk bersebelahan dengan dibatasi pilar

Aku memiliki batasan yang tidak dapat dilewati dengannya, dengan prinsipku yang tidak akan berpacaran sebelum menikah. Membuatku terlihat aku tidak menyukai siapapun. Sehingga aku tidak bisa mendekat padanya untuk bermain-main. Melihatnya dengan lama, atau mengatakan aku menyukainya. Aku dan dia duduk bersebelahan dengan dibatasi pilar, aku rasa dia memilih duduk di sana untuk menjaga dirinya atau diriku agar tidak terjadi fitnah.

Aku berharap dia juga memiliki komitmen untuk tidak berpacaran sebelum menikah. Itu hanya harapanku dan doaku. Namanya selalu aku sebut di setiap doa yang aku pinta kepada-Nya, di selesai sujudku, di setiap tetesan hujan, dan disela-sela setelah adzan menuju iqomah. Aku benar-benar tidak tahu dia sosok yang seperti apa diluar dari yang kulihat di kampus. Apakah dia memiliki komitmen itu? Apakah dia sudah berkomitmen dengan wanita lain? Apa mungkin dia juga menyukaiku selama ini seperti aku yang juga menyukainya? Aku benar-benar tidak tau. Karena aku dan dia benar-benar terlihat biasa dari luar. Sama sekali aku dan dia sama sekali tidak ada komunikasi lebih dari urusan kuliah. Apa mungkin selama ini hanya perasaanku saja seperti dia melihat dan memperhatikanku dari kejauhan.

Pada saat mata kuliah metodologi penelitian kualitatif selesai, aku mengendari motorku menuju mushola di jurusanku. Keadaan mushola tidak terlalu ramai karena memang waktu menunjukan pukul 12.40. Kemudian aku memasuki mushola, dan di sana ada 2 orang teman laki-laki satu kelasku sedang bersiap-siap untuk sholat. Sembari menunggu mereka untuk mengimami aku juga bersiap-siap. Tidak lama kemudian “dia” datang, aku hanya melihatnya datang, tanpa memperhatikan lebih. Aku mendengar percikan air, dia mengambil wudhu dan langkah kakinya memasuki mushola.

Seketika akupun berdiri dari dudukku, kubuka maskerku dengan menunduk, lalu tanpa sengaja aku melihat ke depan dan tepat saat dia melihat ke arah makmumnya memberi aba-aba untuk meluruskan shaf, karena Satir yang menjadi pembatas antara laki-laki dan perempuan tidak tinggi aku langsung menundukan wajahku saat dia melihat ke arahku. Dan tak berapa lama kemudian terdengar suaranya. Pengalaman yang tidak pernah aku sangka, pertama kali aku mendengar takbir darinya, dan aku menjadi makmumnya.

“Allahu Akbar” takbirnya.

Cerpen Karangan: Cheesewafer

Cerpen lainny; Aku Sayang Suamiku

Leave a Comment