Cerpen ; Senjaku Yang Indah

Cerita Pendek Tentang Perasaan Seorang Bisu Di Penghujung Hari-

Namaku Fatimah, lengkapnya Fatimah Jingga semesta. Banyak orang yang menyebutku kutu buku, Karena tidak ada tempat lain selain perpustakaan yang menjadi sasaran nongkrong sehari-hariku. Sebenarnya, sebutan itu tidak pas. Dan kalau boleh aku jujur, aku lebih berlegowo jika disebut sebagai kutu novel, karena apa yang kubaca di perpustakaan hanyalah novel, tidak selayaknya speerti kutu buku pada umumnya yang berkutat dengan buku-buku ilmiah. Bagiku, buku ilmiah sangatlah membosankan. Tidak ada gambar, monoton, bahasanya formal dan kaku. Dan bagiku, novel sangatlah menarik. Menurutku Novel adalah pengeksekusian ide yang apik, alur cerita yang tersusun secara baik hingga mampu menghasilkan berjuta imajinasi di kepala pembaca.

Menurutku, membaca novel lebih seru dibanding menonton film. Saat menonton film, kita hanyut dalam setiap scene yang ditampilkan sebagai hasil karya si sutradara. Beda dengan novel, kalau novel saat kita membaca novel, setiap adegan yang sedang kita baca akan bermain dalam sebuah scene dalam imajinasi kita sendiri secara otomatis. Kitalah sutradaranya.

Tidak hanya itu, selain kutubuku, image yang melekat pada diriku selanjutnya adalah diriku yang pendiam. Dan aku yakin, setiap manusia terlahir ke dunia dengan dikaruniai masing-masing sifat dan karakter. Dan kebetulan, Allah menganugerahi sifat pendiam untukku. Aku tidak kecewa jadi seorang pendiam, aku malah bersyukur.

Diluar sana begitu banyak orang yang memiliki sifat aktif bicara, namun aku kira keaktifan bicara yang mereka miliki kebanyakan justru mengundang banyak dosa. Kalau kita mengamati orang yang aktif berbicara atau bisa disebut bawel atau juga bisa disebut orang yang tidak bisa diam cenderung berbicara sesuka hati mereka. Mereka tidak peduli ada begitu banyak hati yang tidak terlihat yang sedang merasa.

Hati seseorang siapa yang tahu? Baik yang pendiam sekalipun atau sesama talk active saja kita tidak tahu potensial yang akan dirasakan hati masing-masing.

Sepertia yang tak sengaja aku dengar dari sesama perempuan yang tengah duduk berhadapan di sebelahku.

“eh, ituu tuh si fany ngetiknya gak jelas! mana acak-acakan lagi,” ujar salah seorang berkacamata dengan niat mengoreksi hasil ketikan temannya yang berambut ikal.

Namun, tak disangka koreksian itu mengundang ketidak sukaan si rambut ikal. Tak lama kemudian wajahnya menampakkan kekesalan, sampai dia berujar kata-kata menyakitkan ini dengan setengah bercanda setengah menyindir, “Heleh nanti juga bakalan saya edit! Gw udah ngerti, mending lo urus aja tu kacamata! Haha.”

Kuputuskan untuk pindah tempat duduk. Dan kupilih tempat duduk di salah satu bilik untuk membaca.

Hmm.. ini jauh lebih baik.

Dari kejadian tadi, siapa yang akan menyangka kritikan yang sifatnya membangun justru bakal membuat kesal? Siapa sangka ternyata balasan sindiran dari si ikal akan sangat menyakiti hati si kacamata?

Untuk itu, aku bersyukur.

Akupun menutup judul pada sampul sebuah novel karangan Emma Grace.

RE-WRITE.

“Write” yang berarti “tulis”.

Dari sekian banyak orang pendiam, menulis adalah salah satu media untuk menyalurkan apa yang ada di kepala mereka yang tidak bisa diungkapkan melalui obrolan atau ucapan. Menulis adalah hobi lain bagiku.

Begitu banyak hal yang sudah kutulis, dimulai dari mama, papa, kakak, aku, sekolahku, kuliahku, mata kuliah hari ini, kegundahanku, kegalauanku, kebahagiaanku, dan satu hal lain yang selalu kutulis tanpa pernah lupa satu haripun, yaitu senja. Senang rasanya aku menuliskan tentang senja, semburat jingga di langit pertanda pergantian siang dan malam. Perbatasan antara lelah dan lelap.

Senja yang selalu temaram, dan romantis. Yang sudah mengantarkan aku pada satu memori indah yang terselip di antara beribu celah hatiku. Bersamanya, di satu senja 25 Maret lalu.

SENJA DUA MINGGU LALU

25 Maret 2017

Aku masih memegang Sebuah novel dan seraya kulangkahkan kakiku menuju halte yang terletak di depan kampus tempat aku menuntut ilmu. Hari ini tujuanku adalah pergi ke perpustakaan daerah yang terletak sekitar 300 meter dari sini.

Aku menyebrangi dua lajur jalan raya, ada seorang perempuan yang tengah duduk di posisi tengah, dan tampaknya sedang menunggu angkutan – atau motor jemputan, karena ia membawa helm.

Kududuki bangku di sisi kanan perempuan itu. Beberapa saat kemudian, sebuah motor yang dikemudikan seorang laki-laki berhenti di depan kami, menjemput perempuan yang duduk di sebelahku. Aku melihat raut wajah bahagia perempuan itu berlari menghampiri laki-laki itu, lalu seketika saja mereka pergi.

Tinggal aku sendirian di halte. Angkot tak biasanya lama. Aku menatap gedung yang berada di seberang mata -kampusku-, melihat begitu banyak orang hilir mudik dengan masing-masing urusannya. Nampaknya ada yang tergesa-gesa, ada yang terlihat begitu keberatan dengan tas bawaannya, ada yang terlihat santai mendenarkan musik atau entah apa lewat headset, ada yang tertawa bersama temannya, ada jug yang terlihat murung, ada yang biasa saja, ada yang terlihat ceria dan bersahaja.

Seketika, aku teringat akan sebuah novel yang sedari tadi kugenggam. Judulnya, SAUJANA HATI.

Dan demi mengusir rasa bosan menunggu angkot yang tak kunjung tiba, aku memutuskan untuk membuka halaman demi halaman dan mulai membacanya.

Dan itu berlangsung cukup lama.

Apa kemungkin ada beberapa atau bahkan begitu banyak angkot yang lewat dan berhenti -aku pun mendengar bunyi klaksonnya dan tawaran sang abang supir kepadaku- tapi, aku terlalu fokus dengan satu benda yang berada pas di depan mataku -novel, sebelum aku menyadari ada sebuah binder merah tergeletak di sisiku.

“Punya siapa?”, hatiku bertanya-tanya.

Mungkinkah binder ini milik si perempuan tadi? Ah tapi masak iya miliknya, kupikir bukan, karena dengan hati-hati kubuka cover binder tersebut dan tertulis nama sang empunya.

Sebuah nama seseorang yang aku dan hatiku mengenalnya.

Sesaat, aku bingung, apa yang harus kulakukan? Terbersit pikiran untuk membiarkan binder tersebut di sini sementara aku pergi ke perpustakaan daerah. Toh, di sini aman, tidak akan apa-apa. Akan tetapi, perasaanku yang lain menyuruku agar mengembalikan kepada sang pemilik, atau paling tidak menyerahkannya ke pos satpam.

Aku ragu. Namun akhirnya kuputuskan untuk menunggu dahulu. Barangkali dia sadar akan bindernya yang hilang dan mencarinya ke sini.

Untungnya, ada novel. Jadi, aku tidak perlu menelan rasa bosan sendirian.

Semilir angin cukup sejuk di petang ini. Langit mulai menampakkan perubahannya. Aku melihat awan putih kebiruan perlahan mulai memerah membentuk jingga kekuningan yang indah.

Cukup lama aku menunggu sang empunya datang, namun ternyata sia-sia.

Kini senjapun mulai datang, dan aku memutuskan untuk membawa binder ini ke pos satpam kampus.

Tapi, disaat tanganku sudah menggamit ujung binder, suara langkah terdengar dari ujung. Seorang laki-laki yang tampak seperti siluet menghampiri. Napasnya tersengal saat berhenti tepat 2 meter dariku.

Laki-laki itu, menghalangi sinar matahari senja. Tetapi walaupun begitu aku masih bisa melihat wajahnya meskipun samar.

“afwan, apa itu binder ana?”, Tanya laki-laki itu.

Aku tau ini bindernya, karena aku tahu dia.

Ini adalah miliknya irfan, kakak angkatan sekaligus senior satu jurusan. Satu-satunya laki-laki yang kukagumi dalam diam. Perilaku baiknya memancarkan pribadi yang sholih, senyumnya selalu tak pernah pudar, kecerdasan, dan bawaannya yang sederhana tak mampu mencegah kecenderungan hati ini padanya.

Jujur, aku tak berharap hal ini akan terjadi. Aku selalu berusaha menghindar darinya. Berusaha untuk sebisa mungkin tidak berpapasan, bahkan tidak melihatnya.

Dan hati ini tidak ingin salah terus-terusan tentang ini. Karena kutau bahwa cinta itu fitrah, maka kukembalikan rasa yang entah ini cinta atau apa kepada-Nya Sang Maha Membolak-balikkan hati.

“siapa nama akhi?”, kutanyakan hal itu hanya untuk menutupi apa yang selama ini terjadi padaku —aku tahu namanya, aku tahu dia aktif di berbagai organisasi dan aku tau.. dia suka senja, sama sepertiku.

“Irfan Pramudya, benarkah itu binder ana?” jawabnya.

Kuanggukkan kepalaku, dan kutundukkan. Kuserahkan binder merah itu dan ia menerimanya.

“Terima kasih ukhti, syukron katsir,” aku melirik sekilas padanya untuk menghargai. Dan tanpa kusadari yang tertangkap oleh lensa mataku adalah ia yang tengah menundukkan pandangan.

“afwan, bukan maksud apa-apa. tadinya mau ana kasih ke pos satpam. Tapi Alhamdulillah” , ujarku hati-hati.

“tidak apa-apa, terima kasih sekali lagi.”

Lalu akupun menganggukan kepalaku, dan melangkahkan kakiku yang sedari tadi ingin berlari menembus senja dan berteriak dalam hati.

DI SITU AKU TAHU

Kusujudkan hatiku hanya pada-Nya. Memendam cinta tidaklah seburuk apa yang kusangka. Karena do’a bahkan lebih indah daripada janji dan kata-kata.

Kejadian 2 minggu lalu itu, cukup sekali saja itu terjadi. Dan 2 minggu lalu itu, darinya aku tak ingin mengulangnya.

Dan semenjak dua minggu yang lalu, aku semakin tak ingin berpapasan atau melihatnya.

Aku sekali takut salah jika aku melihatnya dan mengakui bahwa memang ini adalah cinta.

Kemudian aku ambil secarik kertas yang sejak saat itu kusimpan, entah yang kulakukan ini benar atau justru salah. Yang jelas, aku berjanji akan mengembalikan ini padanya.

Ini, secarik kertas miliknya.

Dan inilah secarik kertas yang tak sengaja kulihat terselip di belakang sebuah binder merah miliknya.

Dan secarik kertas ini jug yang membuatku semakin banyak sujud di sepertiga malam. Karena ini, adalah jawaban.

“Untuk senja yang selalu membuatku merona..

Aku bukan tipe perempuan yang puitis dan romantis, tapi untuk ini, aku tak kuasa menahannya. Ada sebuah rasa suci, yang baru kali ini aku merasakannya.

Hai, senja merona..

Aku membaca apa yang kau baca dalam diam, dan aku selalu berharap kau tidak menyadarinya.

Diam-diam juga aku tahu bahwa kau menyukai senja.

Mulai saat itu, aku menyukai semburat jingga di ufuk barat dikala petang datang. Aku menyukai senja, dan bagiku kau adalah senja itu.

Dan kau tak akan pernah tahu ada debu yang diam-diam mengagumimu, dan menaruh harapannya dalam doa untukmu.

Diammu meneduhkanku. Dalam diamku, aku memendam rasa ini untukmu.

Apa ini terlalu cepat untuk aku simpulkan rasa ini, tapi kurasa benar.. tak ada yang perlu diragukan, aku tahu bahwa aku mencintai sosok senja yang merona. Dan suatu hari, kau perlu tahu ini semua.

Istiqomahlahlah dengan diammu, aku akan datang suatu hari dan menjadi senja abadi untukmu.

Dalam doa kusampaikan padamu,

Rona Jingga Semesta”

Cerpen Karangan: Adzani Putri

Baca Juga; Aku Mencintainya Dalam Diam

Leave a Comment