Kenapa Merayakan Natal dan Tahun Baru ?

Ucapan Terima Kasih Umat Kristiani Kepada Umat Islam di Tahun Baru Masehi (Natal)

Tahun baru biasanya sering kita isi dengan peniupan terompet, peluncuran kembang api pas pukul 00.00 dini hari, adapula yang mengisinya dengan bakar jagung dan aneka kegiatan lain yang biasa di lakukan menyambut tahun baru.

Sebentar lagi kita akan memasuki tahun baru 2019, terkait masalah itu islam menyikapi berbeda, karena dalam islam tahun baru bukan Januari tetapi Muharrom, menurut kalender islam atau sering kita sebut dengan kalender hijriyah, lalu bagaimana islam menyikapi?

Islam tetap tidak membenarkan dalam memeriahkan tahun baru masehi, apalagi di isi dengan hal hal yang kurang berfaedah, misalnya meniup terompet, terus meramaikan tempat tempat hiburan dan turun kejalan. Cuma terkadang kita sebagai umat muslim masih saja merayakannya, padahal jelas jelas itu menyimpang dari syariat.

Coba sejenak kita renungkan dalog atara seorang kyai dan seorang pendeta berikut :

Pak Kyai : Maaf Pak Pendeta, sebentar lagi 1 Januari Tahun Baru Masehi akan segera tiba, apa yang dilakukan oleh umat Kristiani pada malam tahun baru 1 Januari tersebut?

Pendeta : Kami di malam tahun baru tersebut tidak ada kegiatan yang istimewa, ya seperti biasa saja Malam pukul 19.00 – 20.00 mengadakan kebaktian di Gereja masing- masing lalu pulang, Pagi pukul 07.00 –  09.00 ke Gereja kembali, Itu saja kegiatan kami.

Pak Kyai : Ooo, berarti tidak ada acara yang istimewa di tahun baru ya?

Pendeta : Iya itu saja.

Pak Kyai : Apakah dari umat Kristiani tidak ada yang turun ke jalan untuk memeriahkan tahun baru anda?

Pendeta : Tidak ada.

Pak Kyai : Kenapa tidak ada perayaan turun ke jalan di tahun baru umat kristiani?

Pendeta : Lah buat apa kami turun kejalan, tanpa kami turun ke jalan juga umat Islam sudah memeriahkan tahun baru kami kok!.

Pak Kyai : Maksudnya bagaimana?

Pendeta : Iya kami tidak perlu turun ke jalan, karena kami sangat menghaturkan terima kasih kepada umat Islam yang telah memeriahkan & meramaikan Tahun Baru kami, Coba aja Pak Kyai lihat di jalan pada saat tahun baru kami tiba, Yang dagang petasan umat Islam, yang beli petasan juga umat Islam, yang bakar petasan juga umat Islam untuk merayakan Tahun Baru kami. Yang dagang terompet umat Islam, yang beli terompet juga umat Islam dan yang meniup terompet umat Islam demi memeriahkan tahun baru kami. Yang dagang kembang api umat Islam, yang beli kembang api juga umat Islam dan yang membakar kembang api umat Islam untuk memeriahkan tahun baru kami. Umat Islam berbondong- bondong mendatangi Ancol, TMII, Puncak dan tempat tempat hiburan, jalan jalan penuh dan macet dalam rangka memeriahkan tahun baru kami. Jadi menurut kami kaum kristiani buat apa kami turun ke jalan memeriahkan tahun baru kami, tanpa kami turun kejalan umat Islam sudah turun ke jalan memeriahkan tahun baru kami. Tolong sampaikan salam saya kepada umat muslim yang sudah memeriahkan acara tahun baru kami dengan penuh keceriaan.

Pak Kyai : Ooo begitu ya, oke deh coba ya nanti kami sampaikan ke umat Islam bahwa orang orang kristen sangat berterima kasih kepada umat Islam yang telah meramaikan Tahun Baru Masehi 1 Januari.

apakah kita umat Islam dari tahun ke tahun akan terus menerus meramaikan dan memeriahkan Tahun Baru  tersebut, padahal orang kristen tidak ada yang turun ke jalan memeriahkannya.

Mari kita ingatkan keluarga kita, kerabat kita dan teman teman  kita untuk tidak merayakan tahun baru islam dengan hal yang tidak berfaedah, jika memang ingin memeriahkan maka niatkan kerena syukur kita dengan segala nikmat Allah hingga sampai saat ini kita masih diberi kesehatan dan kemudian isi dengan hal yang berfaedah, misalnya tadarus, khotmil qur’an, perbanyak dzikir dan banyak hal lain lagi yang lebih berfaedah dari pada meniup terompet, membakar petasan dll.

Semoga bermanfaat

Dikitub dari pesan singkat KH. DR. Tb. Abdurrahman Anwar Al Bantany.

(Wakil Ketua Dewan Fatwa DPP Tarbiyah PERTI & Ketua Badan Nasab Kesultanan Banten / BNKB)

Leave a Comment