Kisah Sukses Pendiri Tokopedia

Tokopedia, William Tunawijaya, Online Shop, Toko Online, Kisah Sukses, Recentpedia, Media Informasi

Inspirasi Sukses Dari CEO Tokopedia Siapa yang tidak kenal dengan Tokopedia, bahkan yang tidak familiar dengan internet pun tentu juga tidak asing dengan nama ini, karena di TV pun kita sering mendengar iklan tentang tokopedia. Salah satu ecommerce terbesar di Tanah Air ini menjadi salah satu situs marketplace yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia untuk …

Read moreKisah Sukses Pendiri Tokopedia

Kisah Sukses Pendiri Sistem Operasi Android

Andy_Rubin_Android-Penemu Android

Kisah Sukses Pendiri Sistem Operasi Android Suksesnya Andy Rubin menjadi salah satu cerita dibalik terciptanya sistem android, dan kisah kesuksesan dari Rubin ini semakin menjadi fenomenal setelah perusahaan terbesar google membesarkan android sekaligus penemu dan pengembangnya. Dia adalah sosok penting dibalik terciptanya sistem Operasi Mobile yang bernama android. Kita juga sudah mengetahui sistem operasi android …

Read moreKisah Sukses Pendiri Sistem Operasi Android

Pengusaha Sukses Bob Sadino

Rahasia-Sukses-Berbisnis-ala-Bob-Sadino, Recentpedia

Siapa yang tidak kenal dengan pengusaha sukses yang satu ini, Almarhum Bob Sadino adalah sosok pengusaha yang nyetrik tetapi penuh inspirasi dengan”seragam” celana pendek dan kemeja lengan pendek yang ujung lengannya tidak dijahit, dan kerap menyelipkan cangklong di mulutnya. Dan keunikan itulah sosok pengusaha sukses ternama Bob Sadino, seorang entrepreneur sukses yang merintis usahanya benar-benar …

Read morePengusaha Sukses Bob Sadino

Kisah Sukses Chairul Tanjung | Kumpulan Cerita Motivasi

Cerita Motivasi, Pendiri Transmart, Chairul Tanjung, Trans TV, Trans7, Trans Studio, Kumpulan Cerita Motivasi, PT Bank Mega Tbk, cerita hikmah, Recentpedia, Media Informasi

Kisah Sukses Pendiri PT Bank Mega Tbk, Mega Finance, Trans TV, Trans7, Trans Studio, Transmart Carrefour, Detik.com, Metro Departement Store Seorang yang patut menjadi sebuah inspirasi bagi kita semua, dan seorang pengusaha sukses berasal dari Indonesia. Siapa yang tidak tau pengusaha sukses ini, beliau Chairul Tanjung, beliau adalah seorang konglomerat sukses yang mempunyai berbagai perusahaan besar …

Read moreKisah Sukses Chairul Tanjung | Kumpulan Cerita Motivasi

Cerita Sukses Pendiri WARDAH Kosmetik

Cerita Motivasi, Pemilik Kosmotik WARDAH, pendiri WARDAH, Kumpulan Cerita Motivasi, Paragon Technology and Innovtion, cerita hikmah, Recentpedia, Media Informasi

Cerita Sukses Sang Pendiri Kosmetik Brand WARDAH Diantara kita mungkin ada yang belum mengenali sosok seorang pengusaha wanita yang sukses asal Indonesia ini. Dialah Nurhayati Subakat. Nurhayati adalah seorang pendiri dan pemilik produk kosmetik dengan Brand atau merk dagang “WARDAH”, produk yang satu ini sudah popular di Indonesia, khususnya di kalangan perempuan, karena produknya yang …

Read moreCerita Sukses Pendiri WARDAH Kosmetik

Cerita Suksesnya Pendiri Go-Jek

Cerita Motivasi, Penemu Aplikasi Gojek, Kumpulan Cerita Motivasi, Ojek Online, cerita hikmah, Recentpedia, Media Informasi

Kisah Sukses Sang Pendiri Go-Jek Alat transportasi memang penting perannya. Walaupun kita memiliki kendaraan pribadi namun tak dipungkiri jika alat transportasi sewaktu-waktu juga kita buktikan. Di artikel kali ini kita akan belajar dari kisah sukses Nadiem Makarim, dialah yang telah membuat aplikasi ojek online yang saat ini lagi popular dikalangan masyarat, ini sebagai contoh bagaimana …

Read moreCerita Suksesnya Pendiri Go-Jek

Kisah Sukses Berdirinya Bukalapak

Pendiri Bukalapak, achmad zaky, Online Shop, Recentpedia, Media Informasi

Kisah Sukses dibalik berdirinya Online Shop Bukalapak.com Bagi anda yang gemar belanja online, pastinya sudah tidak asing lagi dengan bukalapak.com. kenapa, karena saat ini bukalapak merupakan salah satu marketplace lokal terbesar. Online Shop yang satu ini adalah salah satu e–commerce online marketplace yang sejak beberapa tahun terakhir mampu mendominasi online marketing di Indonesia serta bersanding …

Read moreKisah Sukses Berdirinya Bukalapak

Aku Sayang Suamiku

Kisah Wanita Sholehah, Cerpen, Kisah Hikam, Recentpedia, Media Informasi

Sebuah kisah tentang seorang wanita sholehah yang setia kepada suaminya

Pada hari itu, aku berkomitmen untuk menjaga cintaku dengan dia, aku serasa menjadi perempuan yang paling bahagia didunia ini, Pernikahan kami sederhana tapi sangat meriah, diapun menjadi pria yang sangat romantisan pada waktu itu. Impianku terkabul, menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan dan mapan pula hehe. Pada saat kami ta’aruf dia sudah sukses dalam karir nya, dan yang lebih romantisnya lagi kami berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami Baru meminangku, Akhirnya setelah menikah akupun mengajaknya untuk umroh ke tanah suci.

Jujur aku begitu sangat bahagia bersama nya, dia sangat memanjakan aku. Aku melihatnya rasa cinta dan sayangnya pada ku dimatanya. Bahkan banyak teman temanku yang bilang, kami pasangan yang serasi. Itu semua terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Dan bahagiapun aku rasakan saat menikah dengannya.

Kini usia pernikahanku sudah 5 Tahun, sangat tak terasa waktu berjalan, walaupun kami hanya berdua saja. Kalua boleh juju aku sedikit sedih, karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil di tengah keharmonisan rumah tangga kami. Karena dia anak lelaki satu – satunya dalam keluarga nya, jadi aku harus berusaha untuk dapat meneruskan generasi nya.  Alhamdulillah suamiku mendukung ku.  Dia selalu mengatakan Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan NYA. Tapi keluarga nya mulai resah, Dari awal kami menikah ibu & adiknya tidak menyukaiku, aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, tapi aku menutupi dari suami ku. didepan suami ku, mereka sangat baik pada ku, tapi dibelakang suami ku, aku dihina – hina oleh mereka.

Pernah suatu ketika, setahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur. Tapi Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda. Akhirnya suamiku harus dirawat dirumah sakit, pada saat dia belum sadarkan diri, aku selalu menemaninya siang dan malam, kubacakan ayat – ayat suci Al – Qur’an, aku sibuk bolak- balik rumah sakit dan tempat aku melakukan aktivitas sosialku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan. Pada saat aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami, aku melihat didalam kamarnya ada ibu, adik – adiknya dan teman – teman suamiku, dan satu lagi aku melilhat seorang wanita yang sangat akrab dengan ibunya. Aku melihat mereka tertawa menghibur suamiku. Dan aku senang alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suami ku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di depannya. Kemudian aku membuka pintu yang tertutup rapat itu, sambil ku ucapkan “Assalammu’alaikum” dan merekapun menjawab salam ku.

Kemudian akupun berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku, suamiku menatapku penuh manja, mungkin dia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup. Aku melihat tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya yang erat. Kemudian akupun menghapirinya seraya aku mencium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum” , ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yang lirih tapi penuh dengan cinta. Bahagia rasanya melihat suamiku sudah sadar, aku pun senyum melihat wajahnya. Setelah aku duduk di samping suamiku, lalu Ibu nya memperkenalkan wanita yang lagi Bersama kami.

“Fat, perkenalkan ini Desi teman Rizki”
Lalu akupun menatapnya dengan senyum, dan seketika aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi, dan dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Kemudian akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga, dengan senyum aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di dalam ruangan itu, aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Pada saat itu aku sibuk membersihkan dan mengobati luka – luka di kepala suamiku, baru sebentar aku membersihkan mukanya, tiba – tiba adik ipar ku yang bernama Putri mengajakku keluar, dia minta ditemani ke kantin, akupun minta ijin pada suamiku, dan suamikupun mengijinkannya. Aku menemaninya ke kantin. Tetapi saat kami di luar adik ipar ku berkata

” Mbak lebih baik pulang saja, ada kami yang menjaga abang disini. mbak istirahat saja ya. ” dan anehnya aku tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku, dengan alasan abang harus banyak beristirahat, karena psikologisnya masih labil. Aku bingung kenapa aku tidak boleh berpamitan dengan suamiku sendiri, akupun berdebat dengannya mengapa aku tidak boleh pamitan pada suamiku, tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan dia mengatakan hal yang sama, ia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak pamitan pada nya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah suamiku tetap saja membenarkannya, akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.
Mulai kejadian itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai dia kembali dari rumah sakit. Setiap hari aku hanya bisa berdoa dan menangis, dalam kesendirianku. Aku selalu bertanya tanya, mengapa mereka sangat membenciku?

Pada suatu hari, aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain. Suatu pagi, pada saat aku membersihkan pekarang rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman belakang, dia baru aja selesai sarapan, dia mengajakku duduk di ayunan favorit kami, dekat dengan kolam, sambil melihat ikan- ikan di kolam air mancur itu.

” Ada apa kamu memanggil ku ?” Aku bertanya Heran

” ada yang perlu aku sampaikan, besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang” dia berkata sambal menatapku

” Iya sayang aku tahu, aku sudah mengemasi barang- barang kamu di travel bag dan kamu sudah pegang tiket bukan ?” Aku menjawab dengan senyum
“Aku tidak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku akan pulang dengan mama ku ” Jawab nya tegas
“Kenapa kamu baru bilang, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana ?” Aku bertanya balik kepada nya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahu rencana kepulanggannya itu, padahal aku bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.
” Mama minta aku yang menemani nya saat pulang nanti, sekarang aku ingin seharian denganmu, karena nanti kita 3 minggu tidak bertemu, ya kan ?” jawabnya sambil memeluk ku dan mencium keningku.

Jujur pada saat itu hatiku sedih banget, dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan pada nya. Aku selalu berfikir bahagianya aku, dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang dan cintanya. Tapi terkadang dia bersikap kurang adil terhadapku. Apa yang bisa kuperbuat aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi karena keluarga nya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu pada ku, karena suamiku sangat sayang pada ku, aku memutuskan agar dia saja yang pergi, dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami. Aku juga berfikir Karena ini acara sakral bagi keluarganya ya sudah seluruh keluarga nya harus komplit, aku pun tak diperdulikan oleh keluarganya harus datang atau tidak, tidak hadir justru membuat mereka sangat senang, aku tak mau membuat riuh keluarga ini.

Pada Malam itu Sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluannya yang akan dibawa ke Sabang, dia menatapku dan menghapus air mataku yang jatuh dipipiku, lalu aku peluk erat dirinya, hati ini bergumam seakan terjadi sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku tak bisa berbuat apa apa, aku hanya bisa menangis karena akan ditinggalnya pergi. Padahal sebelumnya aku tidak pernah di tinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama – sama kemana pun dia pergi. Aku selalu berfikir Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian tidak punya teman, hanya pembantu saja teman ngobrolku.

Sedih rasanya hati ini akan di tinggal pergi oleh nya. Dan sampailah keesokan hari nya, aku menangis, menangisi kepergiannya. Bahkan aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuk sangka. Hati ini harus yakin, aku harus percaya pada suamiku. Aku harus yakin dia pasti
akan selalu menelpon ku.

Aku merasa sendiri, berjauhan dengan suamiku, sangat tidak nyaman, Tapi Alhamdulillah untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadi aku tak terlalu kesepian di tinggal pergi ke Sabang. Kini hubunganku jarak jauh, komunikasi kami buruk, saat dia di sana aku pun jatuh sakit.

Aku sakit, rahimku sakit sekali seperti dililit oleh tali, tak tahan aku menahan rasa sakit dirahimku ini, sampai- sampai aku mengalami pendarahan, aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki – lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Setelah di periksa, dokter menyatakan bahwa aku terkena kanker mulut rahim stadium 3. Air mataku tak lagi bisa di bendung, apa yang bisa aku banggakan lagi, mertuaku akan semakin menghinaku, suami ku yang malang, yang berharap akan punya keturunan dari rahimku. Tapi nyatanya aku tak bisa memberikannya keturunan. Disaat seperti ini aku hanya memeluk adikku, dan aku kangen pada suamiku, aku menunggu dia pulang, kapan dia pulang, aku tak tahu. Aku meerasa mulai ada yang aneh, aku tidak tahu mengapa dia selalu marah- marah jika menelponku, bagaimana aku akan cerita kondisiku jika dia selalu marah- marah terhadapku.

Pada saat itu aku putuskan, lebih baik aku tutupi dulu, dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama dia berada di Sabang. Biarlah nanti saja ketika dia sudah pulang dari Sabang, aku akan cerita pada nya.

Hari demi hari aku hitung, setiap hari aku menanti suami ku pulang, Kini 3 minggu sudah suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat foto – foto kami, ponselku berbunyi, menandakan ada sms yang masuk. Langsung aku buka di inbox ponselku, ternayta dari suamiku yang sms, dia menulis

“Alhamdulillah aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulang nya satu hari lagi, aku kabarin lagi”.
Informasi singkat ini saja, aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini.

Akhirnya hari yang aku tunggu pun tiba, aku menantinya di rumah. Aku sebagai seorang istrinya, berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan aku akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yang buruk akhir- akhir ini. Lama aku menunggu, akhirnya bel pun berbunyi, kubuka kan pintu untuknya dia pun mengucap salam, sebelum masuk aku pegang tangannya ke depan teras, dia tetap berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan ku cuci kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami, setelah itu aku pun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksi nya . Hal yang tak pernah aku sangka Masya Allah dia tidak mencium keningku, dia langsung naik keatas, dia langsung mandi dan tidur, tanpa bertanya kabarku, Fikiranku tambah gak tenang, tapi aku coba terus tenang, aku hanya berpikiran, mungkin dia capek. Setelah itu aku pun segera merapikan bawaan nya sampai aku pun tertidur. Aku melihat jam menujukkah jam 2 Malam, mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta. Hari hari sebelumnnya biasa nya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya tidur sangat pulas, aku tak tega membangun kannya, aku helus mukanya, aku cium kening nya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka’at.

Pada saat itu aku ketiduran setelah shalat subuh, Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku liat dia dari balkon kamar kami dia bersiap- siap untuk pergi, aku memanggil nya tapi dia tak mendengar, lalu aku langsung ambil jilbabku, aku lari dari atas ke bawah tanpa memperdulikan darah yang bercecer dari rahimku, aku mengejarnya tapi dia begitu cepat pergi, ada apa dengan suamiku? Kenapa dia sangat aneh terhadapku ?

Mulai saat itu aku merasa ada yang aneh, firasatku ada sesuatu. Pada saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuaku, kebetulan Dian yang angkat telpon nya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang terjadi dengan suamiku. Diapun menjawab dengan sangat enteng “mana aku tau, loe pikir aja sendiri” seketika telpon pun langsung terputus. Aku semakin cemas ada apa ini?  Aku heran mengapa suamiku berubah setelah dia pulang dari kota kelahirannya. Bahkan dia tak mau berbicara padaku, apalagi memanjakan ku.

Hari demi hari semakin menjadi orang yang pendiam, seakan dia telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami, kami berbicara seperlunya saja, aku selalu di introgasinya, aku dari mana dan mengapa pulang terlambat, dia bertanya dengan nada yang keras, suamiku telah berubah. Dan yang membuat ku kaget, aku pernah di tuduh nya berzina dengan mantan pacarku, Astaghfirullah, ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu, tapi aku selalu ingat, sebagaimana pun salahnya seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu yang aku pegang, aku hanya bisa berdo’a agar suamiku sadar akan prilakunya.

Kini sudah 2 Tahun berlalu, suamiku tak berubah juga, aku menangis tiap malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja kenal, kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna, walaupun kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya dan menyiapkan segala yang dia perlukan.
Dia tak pernah bertanya tentang kondisiku, penyakitku pun masih aku simpan dengan baik, bahkan dia tak pernah bertanya obat apa yang aku minum. Kini sirna sudah kebahagiaan ku, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. kapan ini semua akan berakhir.Alhhamdulillah, bersyukur aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorang guru, jadi aku tak perlu repot- repot meminta uang pada nya hanya untuk pengobatan kankerku. Walaupun aku hanya berobat semampuku. Hari hariku sidah terbiasa sepi, sungguh suami yang dulu aku puja, aku banggakan sekarang telah menjadi orang asing, setiap aku tanya dia selalu meyuruhku untuk berpikir sendiri. Pada malam itu, tiba- tiba setelah makan malam selesai, suamiku memanggilku.
Akupun langsung menjawabnya dengan nama kesayangannya “Iya yah ada apa?”

“Besok lusa kita siap- siap ke Sabang ya !” Jawabnya tegas
“Lho Ada apa ?” Mengapa tiba tiba mengajakku kesabang?” Tanyaku penuh dengan keheranan
Astaghfirullah. Dulu suamiku lembut dan kini kasar, dia mebentakku, tak ada lagi diskusi anatara kami.

” Sudah kamu ikut saja jangan banyak tanya” jawabnya

Kemudian aku pun lalu mengemasi barang- barang yang akan dibawa ke Sabang sambil menangis, sedih karena suamiku yang tak ku kenal lagi. Sudah lima tahun kami menikah dan sudah dua tahun pula dia menjadi orang asing buat ku. Aku masih ingat saat aku melihat kamar kami yang dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto pernikahan kami sekarang menjadi dingin, sangat dingin lebih dingin dari es batu. Seketika aku menangis dengan kebingungan ini. Aku ingin rasanya berontak tapi aku tak bisa, suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada tinggi, suka membanting barang- barang, dia bilang perbuatan itu menunjukkan ketidakhormatan kedapanya. Mulai saat ini aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini sendiri.

Setelah kami sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidak tidur, karena terus berpikir. Aku melihat keluarga besar nya telah berkumpul disana, termasuk ibu dan adik- adiknya, aku tidak tahu ada acara apa ini. Kemudian kami pun masuk ke kamar kami, suamiku tak betah didalam kamar tua itu, dia pun keluar bergabung dengan keluarga besarnya. Tak lama aku beres beres bawaan, aku ingin memasukkannya ke dalam lemari tua yang berada di dekat pintu kamar, lemari tua itu telah ada sebelum suamiku lahir, tapi tiba- tiba saja Tante Lia, tante yang sangat baik pada ku memanggil ku untuk segera berkumpul diruang tangah, aku pun ke ruang keluarga yang berada di tengah rumah besar itu, rumah zaman peninggalan belanda diaman langit – langit nya lebih dari 4 meter. Kemudian akupun duduk disamping suamiku, suamiku menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya pada nya, tiba- tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya membuka pembicaraan.
“Sumua sudah berkumpul ya,,, Baiklah, nenek ingin bicara dengan kau Fatimah ” Nenek nya bicara sangat tegas, dengan sorot mata yang tajam.

” Iya nek Ada apa ya?” sahutku dengan penuh tanya.

” Kamu telah gabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda- tanda kehamilan yang sempurna, sebab selama ini kau selalu keguguran” Lanjutnya
Seketika aku menangis, untuk inikah aku diundang ke mari, untuk dihina atau dipisahkan dengan suamiku.
“Begini Fatimah, Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu, sebelum kau menikah dengannya, tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur, dan akhirnya menikahlah dia dengaan kamu.” Begitu lentangnya nenek berbicara, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua. Dan aku tidak bisa apa apa, aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.

“Kemaren kemaren aku dengar dari ibu mertua mu kau pun sudah berkenalan dengannya” Lanjut nenek. Aku melihat suamikku hanya diam saja, tapi aku lihat air matanya. Rasanya ingin sekali aku peluk suamiku agar dia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya keberanian. Dan nenek nya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari pembicaraannya ialah dengan wajah yang sangat menantang dia berkata

”Sekarang aku mau tanya, kau maunya gimana ? kau di madu atau diceraikan ?”
Pertanyaan itu sangat menyakitkanku Masya Allah, ya Allah kuat kan hati ini, aku ingin jatuh pingsan, hati ini seakan remuk mendengar nya, hancur hati ku, mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku.
Selama ini aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau kayu tersebut, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.
Dengan lantag ibunyapun melanjutkan “Fatimah jawab !! ”
Seketika akupun langsung memegang tangan suamiku, dengan tangan yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas, walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat
berdiskusi dengannya melalui bathiniah.

“Baik, untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami.” Berat rasanya tapi harus aku jawab, dan itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cinta ku di bagi, pada saat itu juga suami ku memandangku dengan tetesan air mata, tapi mata ku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.

“Bolehkan aku bertanya ayah? Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatku dirumah kita nanti Yah? ” aku bertanya sama suamiku, Dengan tegas dan singkat suamiku menjawab ” Desi ! ”
aku menarik nafas dalam dalam dan langsung bicara ”Nenek, kapan rencana pernikahan nya berlangsung ? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek ?”
“Mereka akan menikah dalam 2 minggu lagi.” Jawab mertuaku
” Kalau begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruh nya mengurus KK kami ke kelurahan besok” Jawabku

Kemudian, Setelah aku berbicara seperti itu, aku permisi untuk pamit ke kamar. Air mataku sudah tidak dapat di bending, aku sudah tidak tahan lagi, aku berjalan sangat cepat, aku buka pintu kamar, aku langsung duduk di tempat tidur. Rasanya aku ingin sekali berteriak, tapi aku sendiri disini. Hatiku tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi, sakit diiringi takutnya penyakitku. Aku mulai bertanya tanya, apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini? Air matuku belum reda akupun berjalan menuju ke meja rias, ku buka jilbabku, aku bercermin sudah tidak cantikkah aku ini, ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok, ku lihat wajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi, rambutku sudah hampir habis, kepalaku sudah botak dibagian tengahnya. Seketika tiba – tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suami ku datang, dia berdiri dibelakangku , tak kuhapus air mata ini aku langsung memandangnya dari cermin meja rias itu. Dan kamipun diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan

“Ayah aku mau mengucapkan terimah kasih, kamu memberi sahabat kepada ku, jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti ! iya kan ?” aku mencoba menenagkan diri, dan suamikupun mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun dia tersenyum dan bertanya kenapa rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan salah memakai shampo, dalam hati ku mengapa dia sangat cuek ? aku merasa dia sudah tak memanjakan ku lagi, kemudian dia bilang “kita istirahat dulu, ini sudah malem”
“Oia ayah, aku sholat isya dulu baru aku tidur” jawab ku tenang.
Aku tak henti menangis, dalam sholat, dalam tidur aku menangis, ku hitung waktu, kapan aku akan berbagi suami dengannya.

Mulai saat itu aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku. Dan ternyata Desi orang Sabang juga, aku baru tau. Mau tidak mau akupun harus merelakannya, sudahlah ini mungkin takdirku. Lagi pula suamiku sudah tak bahagia lagi denganku, Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan aku, dimana rasa sayang dan cintanya itu. Tapi..

Pada saat malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku. Dalam laptopku, aku menulis saat- saat terakhirku melihat suamiku, aku marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku melihat suamiku tidur pulas, Aku menangis melihatnya, apa salahku sampai dia berlaku kejam kepada ku. Kemudian aku save di my document yang bertitle “Aku mencintaimu Suamiku ”
dan akhirnya hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk keluar, aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, mungkin aku takkan bisa melihat sinarnya lagi. Pada saat itu aku berdiri sangat lama, lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku.
“Bagaimana, apakah kamu sudah siap?” tanyanya padauk, lalu aku hapus air mata yang menetes diwajahku sambil berkata :
“Ayah, jika nanti dia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa dia masuk ke dalam rumah ini, cucilah kaki nya sebagaimana kamu mencuci kaki ku dulu, lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do’a di ubun- ubunya sebagaimana yang kamu lakukan pada ku dulu lalu setelah itu…..” aku tak sanggup meneruskan pembicaraan ini, aku ingin menangis meledak, dan tiba- tiba suamiku menjawab “Bunda, lalu apa ?”
Kaget banget aku mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk, aku langsung menatapnya dengan mata yang berbinar- binary.
“apa bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan ?” aku meminta pada suamiku untuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.
Kemudian diapun mengangguk dan berkata ” Baiklah bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda ?” dia mengatakannya sambil menghelus wajah dan menghapus air mataku, dia agak sedikit membungkuk karena dia sangat tinggi, aku hanya sedada nya saja. Aku melihatnya dia tersenyum, sambil berkata ” yasudah bunda kita liat saja nanti ya !” kemudian diapun memelukku dan berkata, “Bunda, Bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui selain mama” kemudian dia mencium keningku, aku langsung memeluk nya erat dan berkata

”Ayah, apa ini semua akan segera berakhir? Ayah kemana saja? Mengapa ayah berubah? Aku kangen sama ayah? Aku kangen belaian kasih sayang ayah? Aku kangen dengan manjanya ayah ? Aku kesepian ayah ? Dan satu hal lagi yang harus ayah tau bahwa aku tidak pernah berzinah! Dulu waktu awal kita ta’aruf, aku memang belum bisa melupakan lelaki lain, setelah 4 bulan bersama ayah baru bisa aku terima, jika yang dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari, aku tidak pernah berzina ayah”.

Lalu pada saat itu juga aku langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata ” ayah aku minta maaf aku telah membuatmu susah” dan pada saat itu juga, diangkatnya badanku, dia hanya menangis, Aku di peluk dengan erat dan lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali. Dan tiba- tiba perutku sakit, dia mulai menyadari bahwa ada yang tidak beres denganku, kemudian dia bertanya ”apakah bunda baik- baik saja” dia bertanya dengan penuh khawatir. Dan akupun menjawab “bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu itu sudah mebuatku baik Yah” Ini bukan waktu yang tepat, karena dia akan melangsungkan pernikahan. Dan aku tidak akan membuatnya khwatir. Aku harus membuatnya khusyu menjalani acara prosesi akad nikah nanti.

Ijab qabul pun dimulai, dan aku duduk disebrang suamiku, Aku melihat dengan jelas suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu membuat hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakan “Ayah Jangan” tapi aku harus nyadar diri dengan kondisi ku. Seketika jantung ini berdebar kencang, ketika mendengar ijab qabul tersebut. Dan begitu ijab qabul selesai, aku menarik napas panjang, Tante Lia, tante yang baik itu, memelukku. Aku harus kuat, aku tak sanggup melihat mereka duduk bersanding di pelaminan. Dan Semua orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku sangat aneh, wajahku yang selalu tersenyum tapi hatiku menangis. Sesampainya dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja, tak mencuci kaki nya. Aku sangat heran dengan prilaku nya. Kenapa dengannya, apa dia tidak suka dengan pernikahan ini ?

Sedangkan Desi di sambut hangat di dalam keluarga suamiku, tak seperti aku yang di musuhinya. Aku tidak bisa tidur malam ini, bagaimana bisa, suami tercintaku akan tidur dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Dan aku tak tau apa yang mereka lakukan didalam. Di seperempat malam, pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu, aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah, aku dekati lalu aku lihatnya. Dan Masya Allah, suamiku tidak tidur dengannya, dia tidur disofa, aku duduk disofa itu sambil menghelus mukanya yang lelah, tiba- tiba dia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.
“Bunda, kamu datang ke sini, aku pun tau ” langsung dia berkata seperti itu, aku tersenyum dan megajaknya sholat lail. Akhirnya kamipun shalat lail, Setelah sholat lail, tiba tiba dia mengatakan “maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita karena egoku. Bunda besok kita pulang ke Jakarta ya, biar Desi pulang sama mama, papa dan juga adik – adikku” aku kenapa dengan suamiku, akupun menatapnya dengan penuh keheranan. Tetapi dia langsung mengajakku untuk istirahat.

Pada saat tidur dia memelukku sangat erat. Dan aku hanya tersenyum saja, sudah lama ini tidak terjadi. Senang rasa suasani ini terjadi, Ya Allah, apakah Engkau akan menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, aku telah merasakan kehadirannya saat ini. Tetapi masih bisakah engkau ijinkan aku untuk merasakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini.
lalu tiba tiba suamiku berbisik, “Bunda kok kurus ?” dan akupun menangis dalam kebisuan.

Kemudian akupun berkata “Mengapa ayah tidak tidur sama Desi ?”
” Ayah kangen banget sama kamu Bunda ” jawabnya sambal memelukku, kemudian dia melanjutkan “aku tak mau menyakitimu lagi, kamu sudah terluka oleh sikapku yang egois” itu jawaban sangat menyentuhku, lalu suamiku berkata, ” Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan bunda. Jujur selama ayah di Sabang, ayah dengar kalo bunda tidak tulus mencintai ayah, bunda seperti mengejar sesuatu, seperti harta ayah, dan satu lagi ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda dimana isinya kalau bunda gak mau berbuat seperti itu, dan seperti itu di beri tanda kutip (“seperti itu” ), ayah ingin ngomong tapi takut bunda tersinggung, dan ayah berpikir kalau bunda pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahi oleh keluarga ayah karena ayah terlalu memanjakan bunda ”

 

Sakit banget hati ini ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada kepercayaan didirinya, hanya karena omongan keluarganya, yang tidak pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini. Lalu akupun hanya menjawab “Ayah, aku sudah ceritakan itu kan Yah, aku tidak pernah berzinah, dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar hartamu, mengapa kamu, banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu itu Yah. Dan kalaupun aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis karena menderita mencintaimu”. Aku tidak tau, aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian di kamar pengantin itu. Dan pada malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan suamiku dengan berusaha memaafkannya beserta sikap keluaraganya juga. Aku tidak mau jika aku mati nanti didalam hatiku penuh dengan rasa benci.

Keesokan harinya, saat aku ingin bangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku sakit sekali dan aku pendarahan, suamiku kaget, pada saat itu suamiku kaget bukan main, dia langsung menggendongku. Pada saat itu juga aku pun langsung dilarikan ke rumah sakit, aku mendengar suara dzikir suamiku, dan aku juga merasakan tanganku basah, Saat kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran. diapun menggenggam tanganku dengan erat, seraya mengatakan ” Sayang, Ayah minta maaf ya!!” Aku mendengar berapa kali dia mengucapkan hal itu. Aku bertanya dalam hati, apakah dia tahu apa yang terjadi padaku.
Lalu akupun berkata dengan suara yang lirih ” Ayah, Bunda ingin pulang, bunda ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya Yah, Ayah jangan berubah lagi ya, janji ya Yah, bunda sayang banget sama Ayah”

Lalu tiba- tiba saja kakiku sakit sekali, sakit nya semakin keatas, kakiku sudah tak bisa bergerak lagi, aku tak kuat lagi memegang tangan suamiku, kulihat wajahnya yang tampan, linangan air matanya. Dan sebelum mata ini tertutup ku lafazkan kalimat syahadat dan ditutup dengan kalimat tahlil.

 Bahagia rasanya melihat suamiku punya pengganti diriku, Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka, Menemaninya dalam ketika dia mengalami kesulitan dari kami ta’aruf sampai kami menikah, Aku bahagia bersuamikan dia. Dan teruntuk Ibu mertuaku : “Aku minta maaf telah hadir didalam kehidupan anakmu sampai aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma, dari dulu aku selalu berdo’a agar Mama merestui hubungan kami, tapi kenapa engkau fitnah diriku didepan suamiku, apa engkau punya bukti nya Ma. Kenapa mama sangat cemburu padaku Ma ? Rizky tetap milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa yang mama inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Sama Desi mama sangat baik tetapi sama ku, menantumu kau bersikap sebaliknya.

“Suamiku, mengapa keluargamu sangat membenciku, Ayah, aku dihina oleh mereka, Kenapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu? Pernah suatu ketika, aku bertemu Dian di jalan, aku menegornya karena dia adik iparku tapi aku disambut dengan wajah ketidak sukaannya. Aku melihatnya yah. Tetapi saat engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan dia memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Kenapa bisa seperti itu ayah …?
Suamiku, aku tak bisa berbicara tentang ini padamu, karena aku tahu kamu pasti membela adikmu, tak ada gunanya Yah. Perlu ayah tau aku diusir dari rumah sakit, dan aku tidak diperbolehkan lagi merawat suamiku. Jujur yah, aku cemburu sama Desi yang sangat akrab dengan mertuaku, tiap hari dia datang ke rumah sakit bersama mertuaku . Dan aku sangat marah, Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, dia pasti akan membela Desi dan ibunya.

Aku tidak ingin membuatmu sakit hati, Aku hanya bisa mengadu sama Allah, Ya Allah kuatkan aku, maafkan aku, Ya Allah Engkau Maha Adil, Maka rerilah keadilan ini padaku Ya Allah.

Suamiku sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku, Suamiku Sayang aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja- manja lagi padamu, Aku kuat ayah dalam kesakitan ini, Ayah Lihatlah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku, Dan kaulihat ayah aku bisa melakukan ini semua sendiri.

Esok Hari suamiku akan menikah dengan perempuan itu, kalua boleh jujur aku benci perempuan itu, yang aku cemburui, tetapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku Aku harus sadar diri.

Suami tersayang, sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu, Kenapa harus Desi yang menjadi sahabatku ? Suamiku jujur aku masih tak rela, tetapi aku harus ikhlas menerimanya.

Besok pagi suamiku melangsungkan pernikahan keduanya, Aku hanya bisa mendoakannya semoga semuanya lancer, dan semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku, ingin sekali rasanya aku merasakan kasih sayangnya yang terakhir sebelum ajal ini menjemputku. Suamiku tersayang, aku kangen sekali sama ayah

Read moreAku Sayang Suamiku