3 Tipe Manusia Dalam Meraih Kesuksesan Dunia Akhirat

Tipe Manusia Dalam Meraih Kesuksesan Dunia Akhirat

Tipe 1

Pernahkah kita bertemu dengan orang yang rajin Shalat, Puasa rutin dan Ibadah Ibadah yang lain juga rajin, akan tetapi hidupnya biasa biasa saja, punya usaha juga gitu gitu aja tidak berkembang, harta juga gak banyak, bersedekahpun jadi pas pasan. Perlu kita sadari semua bahwa kondisi seperti ini justru dapat melemahkan iman seseorang “dia aja yang rajin shalat dimasjid hidupnya biasa biasa, usahanya juga gitu gitu aja, ada tetangga yang membutuhkan bantuan dia malah tidak bisa bantu”. Nah hal seperti ini bisa menggoyahkan iman bagi yang kurang kuat imannya, padalah bisa saja Allah memang membari jatah yang hanya cukup untuk dirinya.

Akan tetapi teman teman hal seperti ini juga jangan sampai kita menyarah pada keadaan, dan menerimanya sebagai takdir. Bukannya Allah dalam Al Qur’an telah menyatakan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali dia sendiri yang mengubahnya. Kalau kita mau intropeksi diri, orang tersebut bukan kurang iman akan tetapi kurang ilmu. Bukannya janji Allah juga ada siapapun yang mengingikan kesuksesan dunia harus dengan ilmu, dan siapapun yang menginginkan kesuksesan di akhirat juga dengan ilmu dan siapapun itu yang menginginkan kesuksesan keduanya maka dengan ilmu. Orang yang seperti ini cenderung memilih menutup diri dari ilmu ilmu baru tentang jualan dan ilmu tentang bisnis, dia tidak mau mengikuti tran jaman, sehingga bisnis yang dijalaninya hanya gitu gitu aja, tidak ada perkembangan. Padahal dunia ini berubah begitu cepatnya, malas membaca, malas belajar dan malas berkumpul dengan komunitas komunitas pengusaha dan akhirnya dia mentok dan tidak ada inovasi untuk mengembangkan bisnisnya.

Ibaratnya saja dia masih berencana membuka usaha wartel, padahal saat ini semua orang sudah dapat memegang telp dimana mana, tanpa harus kewartel. Adalagi, dia puas dengan berjualan di pinggir jalan, padahal teman temannya yang lain sudah berjualan dari genggaman saja. Nah disinilah letak pentingnya ilmu dan komunitas.

Tipe 2

Teman teman semua pastinya pernah dong melihat orang yang ibadahnya bolong bolong atau malah tidak pernah ibadah, apalagi puasa dan bersedah pun paling anti, ini adalah kikir level dewa hehehe….tidak hanya itu dalam bisnispun tidak jujur, sering curang dan mendzolimi yang lain, bahkan halal haram sudah bukan urusan lagi, maksiat sudah jadi kebiasaannya. Akan tetapi aneh nya rejekinya justru mengalir deras, uang terus berdatangan, pamer jadi kebiasaan, mobil sering gonta ganti, emas bergantungan di sekujur badan, nah kemudia muncullah komentar begini “Ya Allah mana letak keadilanmu, yang rajin ibadah hidupnya tetap kere, dan yang rajin maksiat malah hidupnya tidak pernah melarat” pernah donk kita menjumpai hal seperti ini, dan bisa saja ini mendorong rapuhnya iman.

Bukannya Allah dan Rosulnya telah memberi jawaban bahwa yang seperti ini Namanya Istijrad.

Rasulullah SAW. Bersabda yang artinya “ Apabila kamu melihat Allah memberikan kepada seorang hambaNya didunia ini apa yang hamba itu sukai atau inginkan, sedangkan hambaNya itu selalu berbuat maksiat, maka itulah istijrad

Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, kamipun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka secara tiba tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa. [Q.S. Al An’am: 44].

Maka orang orang yang dzalim itu dimusnahkan sampai ke akar akarnya, dan segala puji bagi Allah, tuhan seluruh alam [Q.S. Al-An’am: 45].

Dan mungkin kita juga pernah mendengar cerita tentang seorang raja kaya raya tapi suka bermaksiat, Allah berikan harta yang bergelimangan, hingga sampailah pada saatnya Allah ambil semua yang dia miliki, kesenangannya, hartanya hilang dalam sekejab.

Mungkin juga kita pernah mendengan Rumah mewah tiba tiba terbakar dan ludes, Mobil mewah tiba tiba hancur dan remuk kecelakaan, istri yang cantik, suami yang tampan sakit tak kunjung berhenti dan anak kesayanggya tiba tiba meninggal mendadak. Perusahaan besar dipenuhi pencuri dari orang orangnya sendiri, hingga asset habis tak tersisa. Mitra bisnis tiba tiba menusuk dari belakang atau justru di tangkap KPK karena terlibat menyuap pejabat. Harta dan kemewahaan yang dimilikinya lenyap tanpa sisa, hati sudah tidak tenang lagi,resah gelisah, putus asa, dan endingnya adalah sakit jiwa atau bunuh diri. Nah sebelum itu terjadi segera bertaubat dan mulailah bisnis yang sesuai dengan ajaran.

Tipe 3

Tipe ketiga ini juga banyak di dunia ini, dan saya pribadipun sering menjumpainya. Sudah ibadahnya tidak pernah bolong, baik pada sesama, suka menolong, suka berbagi, bahkan membantu anak yatim disana sini. Orang santun dan bermakna dalam berbicara,, tidak pernah merendahkan orang lain, dan suka membantu mengembangkan bisnis orang lain. Semua kebaikan dia kerjakan dengan penuh keikhlasan tanpa pamrih. Hidupnya tenang, keluarganya harmonis dan bisnis bisnisnya maju dalam keberkahan. Dia memiliki banyak harta tapi tidak sedikitpun menyombongkan diri atau pamer di social media. Mobil tak lebih untuk transportasi, handphone hanya untuk berkomunikasi dan apa yang dimiliki tidak membuat dirinya tinggi hati.

Teman teman, Allah memberikan kita hati dan otak untuk merasa dan berfikir serta memutuskan, mau seperti apakah hidup kita ini. Kitapun berhak menentukan jalan mana yang harus kita lalui. Dan akhir hidup kitapun sama, tubuh kekar yang kita miliki akhirnya akan terkubur dalam kesendirian didalam tanah. Maka kita pun berhak menentukan kita akan dikenang sebagai apa oleh orang orang. Sebagai pencuri, koruptor, ahli maksiat atau orang baik, pebisnis yang dermawan, suka membantu orang dan akan banyak lagi hal akan akan kita tinggalkan.

Maka kita harus cerdas menyiapkan itu semua, cerdas dalam memutuskan segala sesuatu dan cerdas dalam memilih jalan hidup kita.

Silahkan share tulisan ini jika dirasa bermanfaat, semoga menjadi amal jariah dan dihitung sebagai amal dalam mengajak dalam kebaikan, amin

Baca Juga

Cinta dan Menjemput Jodoh

Ibu Sebagai Madrasah Pertama

Kisah Penjual Koran

Leave a Comment